RSUD Alimuddin Umar Sukses Gelar Simulasi Code Red Bersama Damkar Lampung Barat
LIWA, LAMPUNG BARAT — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Alimuddin Umar mengambil langkah proaktif dalam memitigasi risiko bencana darurat dengan menggelar simulasi penanganan kebakaran berskala besar, atau yang dikenal secara standar internasional dengan sandi Code Red. Menggandeng Satuan Polisi Pamong Praja serta Pemadam Kebakaran (Satpol PP Damkar) Kabupaten Lampung Barat, kegiatan ini menjadi bukti nyata kesiapsiagaan fasilitas rujukan utama tersebut dalam melindungi keselamatan nyawa pasien dan aset vital.
Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan bertipe Kelas C berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), RSUD Alimuddin Umar memiliki tantangan geografis yang terbilang unik. Berdiri di atas area seluas 5,5 hektare di Jalan Teuku Umar No. 3, Liwa, kompleks ini berada di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 930 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kondisi topografi perbukitan serta jarak tempuh armada pemadam kebakaran menciptakan apa yang disebut sebagai golden time window. Dalam kalkulasi manajemen risiko kedaruratan, 10 hingga 15 menit awal sejak timbulnya api adalah fase paling krusial yang sangat bergantung pada ketangkasan staf rumah sakit.
“Risiko keselamatan kebakaran di rumah sakit berbanding lurus dengan kompleksitas operasionalnya, mulai dari instalasi gas medis, jaringan kelistrikan berdaya besar, hingga penggunaan bahan kimia di laboratorium dan unit Central Sterile Supply Department (CSSD)”. Terlebih lagi, terdapat populasi rentan seperti pasien tirah baring (bedridden), bayi, dan pasien pasca-operasi yang membutuhkan penanganan evakuasi ekstra.
Guna menyederhanakan alur komando di tengah kepanikan, simulasi ini mempraktikkan sistem pembagian tugas berbasis pengkodean warna helm keselamatan. Sistem ini terbukti efektif memastikan bahwa upaya pemadaman, evakuasi pasien, dan penyelamatan aset berjalan secara paralel dan terukur.
Berikut adalah pembagian peran krusial dalam skenario kedaruratan tersebut:
-
Helm Merah (Tim Pemadam Utama): Bertugas mengambil Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan melakukan teknik pemadaman api awal secara langsung di lokasi kejadian.
-
Helm Biru (Tim Evakuasi Pasien): Memimpin evakuasi penghuni gedung; pasien kooperatif menggunakan pengikat tali penuntun, sementara pasien non-kooperatif menggunakan brankard.
-
Helm Putih (Tim Penyelamat Dokumen): Bertanggung jawab mengamankan dan memindahkan berkas rekam medis serta dokumen administrasi berkerahasiaan tinggi.
-
Helm Kuning (Tim Penyelamat Peralatan): Bertugas mengamankan peranti medis portabel bernilai tinggi seperti monitor pasien, mesin suction, dan unit EKG ke titik kumpul.
-
Petugas Pengatur Lalu Lintas: Memblokir jalur bahaya, menjaga sterilisasi titik kumpul aman, serta memandu armada Damkar.
Pelaksanaan simulasi Code Red yang diintegrasikan ke dalam Hospital Disaster Plan (HDP) ini bukan sekadar rutinitas. Kegiatan ini merupakan wujud kepatuhan terhadap standar akreditasi Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK), secara khusus MFK 7, MFK 7.1, dan MFK 7.2.
Melalui uji coba penyisiran area berisiko tinggi hingga simulasi penggunaan APAR dengan prosedur baku PASS (Pull, Aim, Squeeze, Sweep), manajemen berupaya memangkas response time secara maksimal. Keberhasilan mengendalikan api secara dini tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga krusial bagi business continuity plan (keberlanjutan operasional) rumah sakit agar pelayanan publik tidak lumpuh pasca-insiden.
Ke depannya, RSUD Alimuddin Umar direkomendasikan untuk terus melakukan pemeliharaan infrastruktur proteksi aktif seperti hydrant, detektor asap, dan otomatisasi pintu tahan api melalui program tahunan Instalasi Pemeliharaan Sarana Prasarana Rumah Sakit (IPSRS). Selain itu, penyempurnaan Standar Operasional Prosedur (SOP) evakuasi khusus untuk ruang berisiko tinggi seperti ICU dan ruang bedah, serta penyediaan hotline komunikasi langsung ke pos pemadam kebakaran terdekat, menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketangguhan rumah sakit di masa mendatang. (*)

















