BANDAR LAMPUNG – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi secara menerus sejak Sabtu (5/9/2026) dini hari hingga siang WIB berdampak luas bagi Provinsi Lampung. Tiupan angin yang mengarah ke barat membawa material abu vulkanik menyelimuti sejumlah wilayah daratan dan melumpuhkan sebagian aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Radin Inten II.
Berdasarkan pantauan periode pukul 06.00-12.00 WIB pada hari Sabtu, erupsi terus terekam secara intens. Memasuki malam hari, hujan abu vulkanik mulai dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai titik, mulai dari Kota Bandar Lampung, Pringsewu, Kota Metro, hingga Kabupaten Lampung Selatan. Jarak Kota Metro dan Bandar Lampung yang mencapai sekitar 80 km dari pusat erupsi tak luput dari sebaran debu pekat ini.
Dampak abu vulkanik ini cukup mengganggu aktivitas harian warga.
-
Kawasan Natar: Fitrian, salah seorang warga Natar, Lampung Selatan, mengatakan debu mulai terasa usai waktu Magrib dan menebal dengan cepat. “Sampai di lantai rumah bagian dalam juga debunya,” ungkapnya pada Sabtu malam.
Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya dirasakan di darat, tetapi juga mengancam keselamatan jalur udara. Menyebarnya abu vulkanik (volcanic ash) di ruang udara memaksa otoritas Bandara Internasional Radin Inten II mengambil tindakan tegas dengan membatalkan tiga penerbangan pada hari Sabtu (5/9/2026).
General Manager Bandara Internasional Radin Inten II Lampung, Kiki Eprina Arieanti, menegaskan bahwa langkah antisipasi ini murni dilakukan untuk memastikan keselamatan operasional maskapai. “Pembatalan penerbangan ini dilakukan guna menjaga keselamatan baik penumpang maupun kru pesawat,” jelas Kiki melalui keterangan resminya.
Daftar Penerbangan Batal pada Sabtu, 5 September 2026:
- Lion Air 242 (Rute Cengkareng – Lampung)
Gangguan penerbangan ini diprediksi masih akan berlanjut pada Minggu, 6 September 2026. Sejumlah jadwal penerbangan dikabarkan mengalami penundaan (delay) baik untuk keberangkatan maupun kedatangan, di antaranya:
Pihak bandara mengimbau agar calon penumpang tidak sekadar mengandalkan jadwal lama, melainkan terus memantau pembaruan informasi terkini dari maskapai terkait penjadwalan ulang penerbangan mereka.
Menyikapi fenomena ini, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, memperingatkan masyarakat untuk sangat berhati-hati saat beraktivitas di luar ruang. Tingkat paparan abu vulkanik dinilai masih bisa meluas tergantung pada kekuatan dan arah mata angin.
“Abunya mengikuti arah angin. Jadi masyarakat perlu memerhatikan perkembangan arah angin dan informasi dari petugas. Kalau ada sebaran abu, masyarakat sebaiknya menggunakan masker dan pelindung mata saat beraktivitas di luar untuk menghindari abu masuk ke saluran pernapasan maupun mengenai mata,” imbau Suwarno pada Sabtu siang.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas terkait terus memantau ketat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau guna mengevaluasi langkah darurat lanjutan, baik untuk keselamatan sipil di daratan maupun di sektor transportasi udara. (*)