‎ ‎ Times Akurat News
akuratampung.com
Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaLampung TerkiniPendidikan & Budaya

DLH Pringsewu Menjawab Krisis Sampah Melalui Strategi Hulu dan Inovasi Sirkular

Avatar Of Rivan Firmansyah
6866
×

DLH Pringsewu Menjawab Krisis Sampah Melalui Strategi Hulu dan Inovasi Sirkular

Sebarkan artikel ini
Dlh Pringsewu Menjawab Krisis Sampah Melalui Strategi Hulu Dan Inovasi Sirkular
Example 468x60

DLH Pringsewu Menjawab Krisis Sampah Melalui Strategi Hulu dan Inovasi Sirkular

 

PRINGSEWU – Menghadapi ancaman krisis lingkungan yang nyata, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pringsewu di bawah kepemimpinan dr. Ulin Noha, M.Kes., meluncurkan transformasi tata kelola fundamental. Bergeser drastis dari pendekatan konvensional kumpul-angkut-buang, DLH Pringsewu kini mengarsiteki sistem terpadu berbasis pengurangan di hulu, inovasi ekonomi sirkular, dan penegakan regulasi yang terukur. Langkah berani ini diambil untuk menjawab defisit kapasitas TPA Bumiayu yang kian kritis sekaligus memposisikan Pringsewu sebagai model daerah inovatif di tingkat nasional.

Example 300X600

 

Latar belakang transformasi ini didorong oleh data yang mengkhawatirkan. Kondisi riil di lapangan menunjukkan laju timbunan sampah harian Kabupaten Pringsewu mencapai angka fantastis, yakni sekitar 163 ton per hari. Namun, fakta pahit harus dihadapi pada daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bumiayu yang sangat terbatas, hanya mampu mengelola kisaran 42 ton per hari.

 

Terdapat jurang defisit kapasitas yang sangat lebar sebesar 121 ton sampah per hari yang tidak tertampung secara ideal. Ketimpangan drastis ini mempercepat potensi krisis penumpukan total di TPA, yang pada gilirannya menuntut DLH Pringsewu untuk memperkuat infrastruktur pengelolaan sampah berkelanjutan secara masif dan cepat.

 

dr. Ulin Noha menyadari sepenuhnya tantangan transisi ini. Dalam konteks nasional pun, ketimpangan pengelolaan sampah masih menjadi rapor merah. Data OECD tahun 2025 mencatat Indonesia baru mengelola sekitar 39 persen sampahnya dengan baik, sementara laporan World Bank pada tahun yang sama mengemukakan akumulasi sampah nasional berkisar antara 64 hingga 71 juta ton per tahun. Transformasi di Pringsewu adalah jawaban lokal terhadap krisis global tersebut.

 

Sebagai respons langsung terhadap ancaman over-capacity TPA Bumiayu, Pemkab Pringsewu bersama DLH meluncurkan inisiatif strategis ganda: Bank Sampah Induk “Pringsewu Resik” yang dirangkaikan masif dengan “Gerakan Pilah Sampah dari Rumah”. Diresmikan pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2026, skema ini bekerja dengan mengubah pola pembuangan linear menjadi alur daur ulang sirkular.

 

Mekanisme ini terintegrasi secara substansial:

1. Pemilahan di Sumber: Masyarakat di tingkat rumah tangga diwajibkan melakukan pemilahan sampah.

2. Jaringan Unit: Sampah yang terpilah disalurkan melalui 45 Bank Sampah Unit baru di tingkat pekon dan kelurahan, yang mengandalkan peran aktif Tim Penggerak PKK hingga akar rumput.

3. Konsolidasi & Nilai Ekonomi: Seluruh pemilahan terkonsolidasi di Bank Sampah Induk “Pringsewu Resik”.

4. Kemitraan Industri: Daur ulang didistribusikan ke jaringan industri melalui Nota Kesepahaman (MoU) resmi bersama raksasa industri, PT Indofood dan CV Top Central Plastic.

 

Skema ini terbukti efektif mengurangi beban residu ke TPA Bumiayu sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi langsung bagi warga.

 

Pilar utama penanganan di hulu juga diperkuat melalui optimalisasi 12 unit Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang tersebar di wilayah strategis. Salah satu yang menonjol adalah TPS3R “Jejama Secancanan” di Kelurahan Pringsewu Barat.

 

TPS3R ini menjelma menjadi model kolaborasi multi-pihak yang gemilang, melibatkan akademisi dari 14 perguruan tinggi, termasuk Institut Bakti Nusantara (IBN) Lampung, dalam program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Kolaborasi ini memfokuskan pada inovasi teknologi daur ulang, digitalisasi pemasaran produk daur ulang, serta modifikasi mesin pencacah untuk meningkatkan nilai ekonomi sampah limbah kertas dan plastik.

 

Dlh Pringsewu Menjawab Krisis Sampah Melalui Strategi Hulu Dan Inovasi Sirkular

 

Komitmen DLH Kabupaten Pringsewu dalam pembinaan lingkungan berkelanjutan membuahkan gelombang penghargaan bergengsi. Pendampingan terstruktur terhadap sektor pendidikan berhasil membentuk ekosistem yang tanggap terhadap preservasi alam melalui program Adiwiyata.

 

  • UPT SMPN 1 Adiluwih: Meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional tahun 2024 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atas keberhasilannya mengintegrasikan pengelolaan sampah dan konservasi sekolah ke dalam budaya sekolah.

 

  • SMP Xaverius Pringsewu: Memperoleh predikat Terbaik 2 Lomba Sekolah Sehat regional sekaligus penghargaan Sekolah Adiwiyata atas sanitasi dan integrasi PHBS.

 

Di sektor pelayanan publik dan bisnis, DLH Pringsewu memberikan penghargaan ketaatan lingkungan kepada entitas kesehatan yang konsisten memenuhi dokumen analisis lingkungan dan pengelolaan limbah B3 medis, di antaranya Rumah Sakit Mitra Husada, RS Surya Asih, dan RS Wisma Rini. Keberhasilan tata kelola lingkungan ini berakumulasi pada pemerintah daerah, di mana Kabupaten Pringsewu dianugerahi penghargaan Innovative Government Award (IGA) 2025 oleh Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri lintas inovasi pelayanan publik.

 

Di tengah capaian prestasi, dr. Ulin Noha menghadapi dinamika operasional dengan cermat dan transparan. DLH mengakui isu keterbatasan armada pengangkut sebagai kendala utama, di mana jumlah truk kontainer dan armada pikap belum sebanding dengan volume sampah pemukiman.

 

Menanggapi sorotan publik mengenai transparansi anggaran, dr. Ulin Noha menjelaskan secara akuntabel bahwa pagu pemeliharaan dirancang untuk memenuhi kebutuhan riil satu tahun penuh, mencakup BBM, suku cadang, oli, hingga jasa perbaikan teknis agar kendaraan tetap layak jalan.

 

Tantangan pengawasan juga mencakup aktivitas fisik yang mengubah bentang alam, seperti kasus penimbunan lahan di area belakang RS Mitra Husada. dr. Ulin Noha menerapkan pendekatan teknis berbasis pembagian kewenangan yang jelas. Sementara tata ruang adalah domain dinas terkait, fokus DLH terletak pada pemenuhan aspek ekologis dan dokumen persetujuan lingkungan.

 

DLH melakukan peninjauan lapangan yang ketat, berfokus pada analisis sistem tata air dan drainase lokal untuk mencegah risiko genangan air baru atau limpasan permukaan (*surface runoff*). Pengawasan juga mencakup sebaran debu material, memeriksa kualitas tanah urugan bebas kontaminasi, serta audit ketaatan dokumen persetujuan lingkungan (seperti AMDAL atau UKL-UPL).

 

Teranyar, DLH mencermati pengawasan izin lingkungan untuk usaha jasa boga skala besar, termasuk fasilitas pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), guna memastikan ketersediaan IPAL yang memenuhi standar teknis untuk melindungi kualitas air sumur warga.

 

Dinamika DLH Kabupaten Pringsewu menunjukkan bahwa instansi ini sedang berada pada transisi penting menuju tata kelola lingkungan terpadu. Keberhasilan penanganan krisis sampah kini bergantung sepenuhnya pada konsistensi skema hulu melalui Bank Sampah Induk “Pringsewu Resik”, jaringan TPS3R, dan komitmen kemitraan industri daur ulang. Laju pengurangan sampah dari sumber rumah tangga menjadi kunci utama untuk menutup defisit kapasitas TPA.

 

Sinergi antara edukasi masyarakat, peremajaan armada operasional, keterlibatan dunia usaha, dan ketegasan pengawasan izin lingkungan membentuk landasan kebijakan yang kuat. DLH Kabupaten Pringsewu kini memiliki peta jalan yang jelas untuk mewujudkan daya dukung lingkungan yang berkelanjutan bagi daerah.***

Dlh Pringsewu Menjawab Krisis Sampah Melalui Strategi Hulu Dan Inovasi Sirkular

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
‎ ‎
Times Akurat News